Rabu, 25 Januari 2012

About Reason

Siapa aku ?
Kenapa ku hidup ?
Siapa dia ?
Kenapa aku begitu mencintainya ?
….

            Berjuta pertanyaan menggantung di langit-langit otakku. Tak ada jawaban yang pasti. Meski ku telah jelajahi hari demi hari dengan terus merenung dan belajar tentang arti hidup. Dalam kasus ini, Tuhan seperti sedang menghukumku. Bukan.. bukan dengan musibah, bukan pula dengan kesedihan, hanya dengan pertanyaan. Tuhan menghukumku dengan berjuta pertanyaan.
            Suatu hari aku menemukan sebuah buku usang yang tak lain adalah catatan harianku saat ku baru bisa belajar menulis. Dulu tulisan seperti itu sangat mendapatkan apresiasi yang bagus sekali dari guru SDku. Tapi kalau untuk saat ini, tulisan seperti itu lebih mirip sampah.
            Halaman demi halaman ku buka dengan senyum kerinduan. Aku merindukan masa kecilku. Tiba tiba kumenemukan sebuah kalimat usang…
            “Siapa aku ?” Begitu bunyi tulisannya.
            Sempat ku berfikir kalau aku mengutipnya dari sebuah buku atau apalah itu, tapi tak ada satupun ingatan tentang itu. Aku kira aku mengarangnya sendiri, tapi dari mana anak berumur tujuh tahun bertanya tentang siapa dirinya yang sebenarnya ?. aku yang sudah dianggap dewasa sekalipun masih ragu untuk melontarkan pertanyaan mematikan itu. Pertanyaan itu bagiku seperti pintu masuk zona blank spot, zona dimana tidak ada jawaban atas semua pertanyaan. Hanya orang sucilah yang bisa mengerti tentang siapa dirinya.
            Pertanyaan itu terus menjadi mimpi burukku hingga ku menemukannya. Dia yang ku cinta. Kutukanku menjadi bertambah, pertanyaan muncul sesaat setelah ku jatuh dalam jurang yang sangat dalam, jurang perasaan. Ada setitik harapan yang tiba-tiba hadir saat ku tatap dalam matanya. Harapan itu yang membuatku bertahan dalam mencari jawaban.
            Aku menemukannya pada suatu senja yang berembun. Hujan sudah seperti bagian dari drama perjumpaanku dengannya, romantis. Satu kali saja ku berkedip maka ku akan kehilangannya, begitu pikirku saat itu. Gila ? ya aku gila. Mencintainya memang bukan keputusan yang tepat, tapi apa daya hati ini telah menemukan dermaga untuk berlabuh. Saying rasanya jika ku kayuh lagi perahu yang sudah berlubang akibat terjangan ombak patah hati. Jadi ku biarkan saja harapan itu tumbuh, mekar nan indah seperti bunga pukul empat.